Diskrepansi Di Rekapitulasi Daftar Pemilih Pemilu 2019

Hari ini 21 Mei 2019, KPU menetapkan hasil perolehan suara Pemilu 2019 (untuk Pilpres dan Pileg 2019). Dua minggu kemarin, saya mengunduh data pemilih dari situs Lindungi Hak Pilihmu yang menyajikan rekapitulasi daftar pemilih. Terdapat sejumlah diskrepansi dari angka rekap jumlah pemilih dengan total daftar pemilih di tiap TPS. Berikut ini diskrepansi yang ada.

No Provinsi Total Pemilih (Angka Rekap) Total Pemilih (Ditotal) Selisih
1 ACEH 3523774 3523769 5
2 SUMATERA UTARA 9785753 9785752 1
3 SUMATERA BARAT 3718003 3718000 3
4 RIAU 3863197 3863197 0
5 JAMBI 2475655 2475654 1
6 SUMATERA SELATAN 5877575 5877575 0
7 BENGKULU 1399108 1399108 0
8 LAMPUNG 6074137 6074136 1
9 KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 932569 932568 1
10 KEPULAUAN RIAU 1229424 1229424 0
11 DKI JAKARTA 7761598 7761570 28
12 JAWA BARAT 33270845 33270837 8
13 JAWA TENGAH 27896902 27896888 14
14 DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA 2731874 2731871 3
15 JAWA TIMUR 30912994 30912978 16
16 BANTEN 8112477 8112473 4
17 BALI 3130288 3130256 32
18 NUSA TENGGARA BARAT 3667253 3667248 5
19 NUSA TENGGARA TIMUR 3391616 3391615 1
20 KALIMANTAN BARAT 3687159 3687159 0
21 KALIMANTAN TENGAH 1753224 1753224 0
22 KALIMANTAN SELATAN 2869166 2869166 0
23 KALIMANTAN TIMUR 2480741 2480741 0
24 SULAWESI UTARA 1907841 1907840 1
25 SULAWESI TENGAH 1952810 1952810 0
26 SULAWESI SELATAN 6159375 6159374 1
27 SULAWESI TENGGARA 1723539 1723539 0
28 GORONTALO 812801 812801 0
29 SULAWESI BARAT 865244 865244 0
30 MALUKU 1266034 1266034 0
31 MALUKU UTARA 803983 803983 0
32 PAPUA 3541017 3541016 1
33 PAPUA BARAT 742245 742245 0
34 KALIMANTAN UTARA 450108 450108 0
Total 190770329 190770203 126

Kolom ketiga di tabel di atas, Total Pemilih (Angka Rekap), adalah jumlah pemilih menurut kolom 9 di halaman rekap nasional. Contoh screenshot. Kolom keempat, Total Pemilih (Ditotal), adalah jumlah pemilih setelah ditotal dari halaman daftar pemilih tiap TPS, kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten, di provinsi ybs. Contoh screenshot halaman daftar pemilih sebuah TPS. Detil untuk selisih di tiap provinsi disajikan di subjudul-subjudul di bawah.

Aceh (5)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
ACEH TIMUR RANTAU PEUREULAK ALUE DUA 3 Di TPS 3 tercatat ada 3 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS kosong.
ACEH TENGGARA BABUSSALAM KAMPUNG MELAYU GABUNGAN 1 Di TPS 1 menurut rekap ada 149 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 148.
KOTA BANDA ACEH KUTA ALAM PEUNAYONG 1 Di TPS 3 menurut rekap ada 233 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 232.
Total 5

Sumatera Utara (1)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
SAMOSIR SIMANINDO TUKTUK SIADONG 1 Di TPS 5 menurut rekap 227 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 226.
Total 1

Sumatera Barat (3)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
SOLOK X KOTO SINGKARAK SUMANI 1 Di TPS 11 menurut rekap 213 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 212.
TANAH DATAR LINTAU BUO UTARA BALAI TANGAH 1 Di TPS 8 menurut rekap 224 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 223.
KOTA BUKITTINGGI GUGUAK PANJANG BUKIK CANGANG KAYU RAMANG 1 Di TPS 7 menurut rekap 205 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 204.
Total 3

Jambi (1)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
KOTA JAMBI DANAU SIPIN SOLOK SIPIN 1 Di TPS 9 menurut rekap 296 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 295.
Total 1

Lampung (1)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
PRINGSEWU PRINGSEWU PRINGSEWU UTARA 1 Di TPS 6 menurut rekap 220 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 219.
Total 1

Kepulauan Bangka Belitung (1)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
BANGKA SUNGAILIAT SUNGAILIAT 1 Di TPS 50 menurut rekap 211 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 210.
Total 1

DKI Jakarta (27)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
JAKARTA PUSAT SENEN PASEBAN 1 Di TPS 37 menurut rekap 273 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 272.
JAKARTA PUSAT CEMPAKA PUTIH CEMPAKA PUTIH BARAT 1 Di TPS 54 menurut rekap 248 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 247.
JAKARTA PUSAT CEMPAKA PUTIH CEMPAKA PUTIH TIMUR 1 Di TPS 78 menurut rekap 269 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 268.
JAKARTA PUSAT JOHAR BARU TANAH TINGGI 1 Di TPS 35 menurut rekap 256 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 255.
JAKARTA UTARA PENJARINGAN KAPUK MUARA 1 Di TPS 98 menurut rekap 289 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 288.
JAKARTA UTARA TANJUNG PRIOK SUNTER AGUNG 1 Di TPS 191 menurut rekap 286 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 285.
JAKARTA UTARA PADEMANGAN PADEMANGAN TIMUR 1 Di TPS 53 menurut rekap 186 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 185.
JAKARTA UTARA KELAPA GADING KELAPA GADING TIMUR 3 Di TPS 68 menurut rekap 283 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 280.
JAKARTA UTARA KELAPA GADING PEGANGSAAN DUA 1 Di TPS 137 menurut rekap 299 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 298.
JAKARTA BARAT TAMBORA ANGKE 1 Di TPS 68 menurut rekap 287 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 286.
JAKARTA BARAT KEBON JERUK DURI KEPA 2 Di TPS 194 menurut rekap 266 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 264.
JAKARTA BARAT KALIDERES KALIDERES 1 Di TPS 116 menurut rekap 289 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 288.
JAKARTA BARAT PALMERAH KEMANGGISAN 1 Di TPS 78 menurut rekap 285 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 284.
JAKARTA BARAT KEMBANGAN KEMBANGAN UTARA 3 Di TPS 13 menurut rekap 262 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 260. Di TPS 153 menurut rekap 207 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 206.
JAKARTA SELATAN PASAR MINGGU CILANDAK TIMUR 1 Di TPS 17 menurut rekap 279 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 278.
JAKARTA SELATAN KEBAYORAN LAMA KEBAYORAN LAMA SELATAN 1 Di TPS 63 menurut rekap 290 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 289.
JAKARTA SELATAN KEBAYORAN BARU SENAYAN 2 Di TPS 3 menurut rekap 291 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 289.
JAKARTA SELATAN KEBAYORAN BARU PETOGOGAN 1 Di TPS 30 menurut rekap 284 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 283.
JAKARTA TIMUR PULOGADUNG PULO GADUNG 1 Di TPS 61 menurut rekap 256 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 255.
JAKARTA TIMUR JATINEGARA CIPINANG MUARA 1 Di TPS 113 menurut rekap 264 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 263.
JAKARTA TIMUR KRAMATJATI BATU AMPAR 1 Di TPS 34 menurut rekap 247 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 246.
JAKARTA TIMUR PASAR REBO GEDONG 1 Di TPS 63 menurut rekap 257 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 256.
Total 28

Jawa Barat (8)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
SUKABUMI CISOLOK CIKELAT 1 Di TPS 10 menurut rekap 260 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 259.
BANDUNG MARGAHAYU MARGAHAYU SELATAN 1 Di TPS 70 menurut rekap 248 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 247.
BANDUNG MARGAASIH RAHAYU 1 Di TPS 71 menurut rekap 237 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 236.
CIAMIS CIAMIS CIAMIS 1 Di TPS 74 menurut rekap 155 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 154.
SUBANG PURWADADI PARAPATAN 1 Di TPS 16 menurut rekap 180 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 179.
KOTA SUKABUMI CIKOLE CIKOLE 1 Di TPS 13 menurut rekap 243 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 242.
KOTA DEPOK SAWANGAN SAWANGAN BARU 1 Di TPS 57 menurut rekap 198 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 197.
PANGANDARAN PANGANDARAN BABAKAN 1 Di TPS 20 menurut rekap 299 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 298.
Total 8

Jawa Tengah (14)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
BANYUMAS WANGON PENGADEGAN 1 Di TPS 8 menurut rekap 272 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 271.
BANYUMAS KEMBARAN PLIKEN 1 Di TPS 19 menurut rekap 242 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 241.
PURBALINGGA BUKATEJA KEMBANGAN 1 Di TPS 15 menurut rekap 224 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 223.
PURWOREJO KALIGESING TLOGOGUWO 1 Di TPS 10 menurut rekap 224 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 223.
PURWOREJO BANYUURIP BOROKULON 1 Di TPS 5 menurut rekap 190 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 189.
PURWOREJO BANYUURIP CONDONGSARI 1 Di TPS 7 menurut rekap 218 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 217.
SRAGEN SRAGEN KARANGTENGAH 1 Di TPS 7 menurut rekap 262 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 261.
KOTA MAGELANG MAGELANG UTARA Kramat Utara 1 Di TPS 3 menurut rekap 256 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 255.
KOTA SURAKARTA LAWEYAN PANULARAN 1 Di TPS 2 menurut rekap 290 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 289.
KOTA SURAKARTA LAWEYAN KARANGASEM 1 Di TPS 17 menurut rekap 292 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 291.
KOTA SURAKARTA JEBRES SEWU 1 Di TPS 21 menurut rekap 185 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 184.
KOTA SURAKARTA BANJARSARI PUNGGAWAN 1 Di TPS 4 menurut rekap 276 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 275.
KOTA SALATIGA SIDOREJO BLOTONGAN 1 Di TPS 27 menurut rekap 201 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 200.
KOTA TEGAL TEGAL TIMUR PANGGUNG 1 Di TPS 38 menurut rekap 286 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 285.
Total 14

Daerah Istimewa Yogyakarta (3)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
GUNUNGKIDUL PURWOSARI GIRIJATI 1 Di TPS 7 menurut rekap 223 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 222.
SLEMAN BERBAH JOGOTIRTO 1 Di TPS 33 menurut rekap 273 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 272.
KOTA YOGYAKARTA MERGANGSAN WIROGUNAN 1 Di TPS 38 menurut rekap 212 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 211.
Total 3

Jawa Timur (16)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
PONOROGO JENANGAN JENANGAN 1 Di TPS 11 menurut rekap 272 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 271.
PONOROGO NGEBEL NGEBEL 1 Di TPS 4 menurut rekap 268 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 267.
KEDIRI KANDANGAN KEMIRI 1 Di TPS 6 menurut rekap 204 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 203.
LUMAJANG PASIRIAN BADES 2 Di TPS 7 menurut rekap 212 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 210.
SIDOARJO SUKODONO SUKODONO 1 Di TPS 21 menurut rekap 151 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 150.
MADIUN DAGANGAN BANJARSARI KULON 1 Di TPS 2 menurut rekap 288 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 287.
NGAWI NGRAMBE SETONO 1 Di TPS 5 menurut rekap 271 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 270.
KOTA MALANG KLOJEN SUKOHARJO 1 Di TPS 4 menurut rekap 256 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 255.
KOTA MALANG KEDUNGKANDANG BURING 1 Di TPS 33 menurut rekap 295 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 294.
KOTA MALANG SUKUN PISANG CANDI 1 Di TPS 25 menurut rekap 286 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 285.
KOTA MALANG LOWOKWARU TUNGGULWULUNG 1 Di TPS 23 menurut rekap 287 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 286.
KOTA MADIUN KARTOHARJO TAWANGREJO 1 Di TPS 7 menurut rekap 247 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 246.
KOTA MADIUN TAMAN PANDEAN 1 Di TPS 15 menurut rekap 240 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 239.
KOTA BATU BATU NGAGLIK 1 Di TPS 15 menurut rekap 209 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 208.
KOTA BATU BUMIAJI BULUKERTO 1 Di TPS 19 menurut rekap 153 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 152.
Total 16

Banten (4)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
KOTA CILEGON CITANGKIL TAMAN BARU 1 Di TPS 22 menurut rekap 255 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 254.
KOTA TANGERANG SELATAN SERPONG UTARA PAKUALAM 1 Di TPS 14 menurut rekap 296 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 295.
KOTA TANGERANG SELATAN PONDOK AREN PONDOK JAYA 1 Di TPS 25 menurut rekap 294 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 293.
KOTA TANGERANG SELATAN PAMULANG PAMULANG TIMUR 1 Di TPS 52 menurut rekap 265 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 264.
Total 4

Bali (32)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
JEMBRANA MELAYA MELAYA 1 Di TPS 26 menurut rekap 300 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 299.
TABANAN SELEMADEG ANTAP 1 Di TPS 9 menurut rekap 242 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 241.
TABANAN SELEMADEG BARAT LALANGLINGGAH 1 Di TPS 2 menurut rekap 189 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 188.
TABANAN TABANAN SUDIMARA 1 Di TPS 12 menurut rekap 268 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 267.
TABANAN TABANAN TUNJUK 1 Di TPS 6 menurut rekap 256 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 255.
TABANAN KEDIRI PANDAK GEDE 1 Di TPS 3 menurut rekap 300 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 299.
TABANAN PUPUAN BELIMBING 1 Di TPS 11 menurut rekap 190 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 289.
BADUNG ABIANSEMAL BONGKASA PERTIWI 1 Di TPS 7 menurut rekap 241 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 240.
BANGLI KINTAMANI BATUR TENGAH 1 Di TPS 7 menurut rekap 145 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 144.
KARANGASEM ABANG ABABI 1 Di TPS 14 menurut rekap 272 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 271.
BULELENG SERIRIT UMEANYAR 1 Di TPS 3 menurut rekap 237 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 236.
BULELENG BANJAR TEMUKUS 1 Di TPS 12 menurut rekap 300 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 299.
BULELENG SUKASADA SUKASADA 1 Di TPS 10 menurut rekap 277 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 276.
BULELENG BULELENG TUKAD MUNGGA 4 Di TPS 10 menurut rekap 286 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 283. Di TPS 11 menurut rekap 232 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 231.
KOTA DENPASAR DENPASAR SELATAN SESETAN 1 Di TPS 37 menurut rekap 236 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 235.
KOTA DENPASAR DENPASAR SELATAN SIDAKARYA 1 Di TPS 34 menurut rekap 282 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 281.
KOTA DENPASAR DENPASAR SELATAN PEMOGAN 1 Di TPS 91 menurut rekap 291 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 290.
KOTA DENPASAR DENPASAR SELATAN SANUR KAUH 1 Di TPS 5 menurut rekap 293 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 292.
KOTA DENPASAR DENPASAR TIMUR DANGIN PURI 1 Di TPS 10 menurut rekap 283 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 282.
KOTA DENPASAR DENPASAR BARAT PADANGSAMBIAN KELOD 1 Di TPS 51 menurut rekap 273 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 272.
KOTA DENPASAR DENPASAR BARAT PEMECUTAN KELOD 2 Di TPS 7 menurut rekap 237 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 236. Di TPS 75 menurut rekap 300 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 299.
KOTA DENPASAR DENPASAR BARAT DAUH PURI KANGIN 1 Di TPS 7 menurut rekap 216 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 215.
KOTA DENPASAR DENPASAR BARAT TEGAL HARUM 1 Di TPS 4 menurut rekap 259 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 258.
KOTA DENPASAR DENPASAR BARAT PADANGSAMBIAN KAJA 1 Di TPS 29 menurut rekap 240 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 239.
KOTA DENPASAR DENPASAR UTARA PEGUYANGAN KAJA 1 Di TPS 4 menurut rekap 230 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 229.
KOTA DENPASAR DENPASAR UTARA PEMECUTAN KAJA 3 Di TPS 21 menurut rekap 278 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 277. Di TPS 53 menurut rekap 294 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 292.
Total 32

Nusa Tenggara Barat (5)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
LOMBOK BARAT LEMBAR LEMBAR SELATAN 1 Di TPS 15 menurut rekap 269 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 268.
LOMBOK BARAT BATU LAYAR MENINTING 1 Di TPS 12 menurut rekap 155 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 154.
LOMBOK BARAT BATU LAYAR SANDIK 1 Di TPS 35 menurut rekap 181 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 180.
DOMPU WOJA KANDAI II 1 Di TPS 19 menurut rekap 225 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 224.
KOTA MATARAM CAKRANEGARA CAKRANEGARA BARAT 1 Di TPS 18 menurut rekap 226 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 225.
Total 5

Nusa Tenggara Timur (1)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
NAGEKEO AESESA NGEGEDHAWE 1 Di TPS 2 menurut rekap 281 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 280.
Total 1

Sulawesi Utara (1)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
MINAHASA UTARA KAUDITAN TREMAN 1 Di TPS 7 menurut rekap 231 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 230.
Total 1

Sulawesi Selatan (1)

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
GOWA SOMBA OPU TOMBOLO 1 Di TPS 15 menurut rekap 274 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 273.
Total 1

Papua

Kota/Kab Kecamatan Kelurahan Selisih Catatan
BIAK NUMFOR BIAK KOTA FANDOI 1 Di TPS 7 menurut rekap 275 pemilih, tapi di daftar pemilih TPS hanya 274.
Total 1

Kesimpulan

Jumlahnya memang tidak signifikan. Sayang KPU tidak merespon pertanyaan saya tentang diskrepansi ini (baik lewat Twitter maupun email; email info@ KPU mental ketika dikirimi email).

Laptop 2-in-1

Si mahasiswi menyentil-nyentil permukaan monitor sentuh laptop transformer yang telah dilepas dari keyboard-nya. Layar “tablet” ini sedang menampilkan explore Instagram. Entah berapa belas kali sehari kegiatan tersebut dilakukannya terutama manakala sedang nongkrong di Starbucks atau saat kuliah dosen membosankan. Sebelumnya hanya melalui ponsel, kini juga sesekali lewat Windows 10 di laptop.

Si mahasiswa sudah datang. Mahasiswi hanya melemparkan sedikit pandangan dari ujung mata dalam sepersekian detik, sebelum kembali terpaku ke layar.

“Udah lama say?”

“Hm.”

“Sori ya, supirnya tuh tadi bloon banget. Dari awal sampe akhir ada aja masalah. Pertama jemputnya salah posisi. Udah gitu plat nomor beda. Ngedumel pula katanya dia udah nunggu lama, ya mana aku tau dong kalo plat nomor gak sama? Trus tadi puteran depan kelewat coba! Padahal udah diingetin. Omo.”

“Ya, belum familiar daerah sini kali. Pesen minum dulu gih sana.”

“Aku ga dipesenin? Gak baca WA-ku?”

“Ga tau kamu WA.”

“Ya kalo ga diliat gimana bisa tau sayang?”

“Lupa tadi masih silent.”

Sesaat kemudian Mocha Frapucchino yang dipesan sudah bisa diambil.

“Terlalu manis ini, mbaknya gak ngikutin instruksi less sugar.”

“Lupa dibilang kali tadi.”

“Hari ini banyak lupa ya?”

Plis deh, aku lagi capek. Jangan cari ribut dulu semenit aja bisa gak?”

“O em ji, aku bercanda han! Hei, kenapa lagi hari ini?”

Si mahasiswa meraih tangan kiri si mahasiswi. Tangan tersebut tetap lemas, tidak merespon maupun menepis. Mata si mahasiswi masih menatap layar, sebelum beralih memandang wajah si mahasiswa lalu ke meja.

“Aku gak apa-apa.”

“Ayolah, aku udah kenal banget kamu. Pasti lagi ada sesuatu kan.”

“Kalau kamu bilang ada, harus ada ya? Kamu lebih tau dari aku?”

“Oke, oke. Sori deh. Jadi gimana laptop barunya, suka?”

“Hm.”

“Ga berat kan? Dan sekarang dibawa tiap hari kan? Udah gak komplen tiap hari keberatan lagi kan?”

“Ia, mayan ringan. Tapi terlalu kecil.”

“Dibiasain ajalah, say. Temanku juga pake laptop 11-12 inci buat ngerjain segala macam, termasuk ngedit film. Buat dia oke kok.”

“Mungkin itu laptop kecil yang mahal, yang merek bagus.”

“Hahaha, dari kemarin nyinggung itu terus deh say. Aku sih ga keberatan beliin yang mahal, tapi kalo yang ini udah bagus, pilih yang murah aja kan? Apalagi beli laptop 2-in-1 kayak ini jadi seperti punya laptop juga sekaligus tablet.”

“Aku gak minta kamu beliin yang mahal kok. Aku juga gak minta kamu beliin yang ini malah.”

“Iya memang kamu ga minta, aku cuma kasian denger kamu ngeluh sejak ambil S2 ini kecapean, banyak tugas, ditambah lagi kadang-kadang kerepotan karena laptop ketinggalan.”

“Kalau aku cerita, bukan berarti aku minta dibelikan sesuatu. Mendengar dan mengerti aja, cukup. Itu pasangan yang baik, yang mengerti pasangannya. Bukan apa-apa diartikan ke materi.”

“Jangan gitu han. Aku dengerin dan ngertiin kamu kok. Justru aku coba memberi solusi.”

“Kalo aku minta solusi, aku bakal ngomong ke kamu. Ini tandanya kamu memang gak ngerti.”

“Udahlah say, gak usah dipermasalahkan. Kalo kamu ga suka laptopnya, ga usah dipakai. Pakai yang lama aja. Kenapa harus ribut?”

“Ribut? Aku ngomong baik-baik gini kamu bilang ribut?”

“Bukan begitu, kamu seolah-olah menyalahkan aku karena membelikan kamu laptop.”

“Kamu yang tadi minta harus ada sesuatu masalah kan?”

Si mahasiswa tidak membalas ujaran si mahasiswi. Ia mengeluarkan hape dari saku, lalu mengecek pesan. Tak berapa lama kemudian.

“Nyebat yuk?”

“Aku abisin minum dulu.”

Di pelataran dekat pot-pot bunga taman, dua orang sedang menghabiskan rokok mereka. Mula-mula tanpa banyak bicara.

“Kamu belum ngasih aku jawaban say.”

“Jawaban yang mana?”

“Yang mana lagilah.”

“Aku belum bisa ngasih jawaban.”

“Kapan bisanya?”

“Ga tau.”

“Kok begitu say? Kamu ga mau nikah sama aku?”

“Bisa ga, ga usah bahas masalah ini dulu? Atau, ga usah dibahas sama sekali.”

“Kenapa?”

“Bisa ga, ga usah tanya kenapa?”

Plis say. Mamaku butuh kejelasan.”

“Itu salah satu masalahnya, apa hubungannya sama mamamu? Yang mau nikah siapa sebetulnya?”

“Ya aku. Kita. Tapi kan aku perlu ngasih tau mama supaya bisa nyiapin semuanya.”

“Kalo kamu belum bisa mandiri, butuh mamamu untuk ini dan itu, kamu belum siap jadi kepala rumah tangga.”

“Bukan begitulah say. Aku rasa aku udah siap. Aku juga ada tabungan. Tapi Mama kan jadi penyandang dana juga, dia minta jadwal supaya bisa booking gedung. Dia itu mirip kamu say, maunya yang mahal padahal belum tentu yang mahal itu bagus, belum tentu yang mahal itu cocok.”

“Coba sekali lagi?”

“Apa?”

“Bilang aku mirip mamamu.”

“Kenapa? Memang kalian mirip kok.”

“Kenapa gak nikah sama mamamu aja? Aku udah capek, kamu itu benar-benar gak punya perasaan.”

“Maaf say, kidding! Aku tau kok gak ada cewe yang mau disebut mirip sama emak-emak.”

“Sudah tahu sesuatu yang tidak pantas, yang tidak seharusnya diucapkan. Tapi tetap diucapkan. Sesuatu yang tidak pantas dilakukan, tapi tetap dilakukan. Apa ini sifat laki-laki yang baik? Yang bertanggung jawab? Yang siap jadi kepala rumah tangga?”

“Iya sayang, aku mengaku salah.”

“Pulang yuk.”

“Ga sayang, aku perlu jawaban.”

“Oke. Jawabannya tidak.”

“Serius?”

“Kamu yang minta kan.”

“Aku gak ngerti. Pasti karena dia kan?”

“Dia siapa?”

“Tolong jangan pura-pura bego. Kamu selingkuh sama dia?”

Plis, Ton.”

“Kalo memang kamu berat ke dia, aku gak bisa ngomong apa-apa lagi. Tapi tolong jujur, katakan ke aku, sebetulnya aku salah apa ke kamu? Kurang apa aku, sampai kamu rela mengorbankan hubungan yang sudah kita bina ini demi seseorang seperti dia?”

“Sekali lagi, tolong jangan bawa-bawa orang ketiga yang gak relevan di sini.”

“Oh, kamu juga bela dia di depan aku?”

“Tolong Ton, aku mohon. Aku jujur, demi Tuhan aku gak pernah selingkuh. Aku sayang kamu, aku menghargai hubungan ini. Tapi aku masih belum yakin sama sekali. Aku belum siap.”

“Apa yang bikin kamu gak siap? Apa yang ada di diriku yang kamu gak sreg, yang kamu gak suka? Apa yang perlu aku ubah?”

“Kamu ga perlu berubah. Berubah demi orang lain itu sesuatu yang salah.”

“Jadi memang ada yang kamu gak suka? Apa? Aku bersedia berubah.”

“Ga ada. Pada dasarnya kita memang berbeda, butuh effort banyak untuk bisa disatukan.”

“Justru itu, karena kita berbeda, masing-masing harus berubah menyesuaikan diri. Aku ngerti, berubah tabiat atau karakter itu sesuatu yang sulit bahkan hampir mustahil. Tapi semua bisa dilakukan perlahan-lahan, apalagi jika memang rasa sayang itu ada. Seperti yang kita lakukan selama ini. Sejak kenal kamu dua tahun lalu, sedikit atau banyak tanpa aku bahkan kamu sadari juga, aku udah berubah. Kalau memang harus berubah lagi untuk menyenangkan pasangan, agar bisa cocok hidup bersama ke depan, kenapa tidak. Sudah berubah, tinggal meneruskan perubahan saja. Kamu gak setuju?”

“Aku gak bilang begitu.”

“Jadi, kamu setuju?”

“Aku juga ga bilang begitu. Kamu maksa banget ya orangnya.”

“Soalnya kamu ngeles banget orangnya. Harus dong maksa itu, buat bisa dapetin kamu. Buat bikin kamu tetap bersama aku.”

“Manis banget mulutnya.”

“Semanis orangnya. Jadi sayang, malam ini aku gak akan maksa kamu untuk jawab ya atau tidak. Kalau kamu belum siap, aku tunggu sampai kamu siap.”

“Aku sarankan jangan menunggu deh. Menunggu itu paling gak enak. Dan belum tentu berakhir sesuai yang diharapkan.”

“Gapapa. Aku rela. Kalaupun ternyata nanti kamu tetap bilang tidak, aku ikhlas.”

“Aku jadi ga enak kalo gitu.”

“Makanya, bilang iya sekarang.”

“Enak aja.”

“Nah gitu dong, senyum dikit kenapa.”

“Iyaaaa, nih aku ketawa sekalian. Biar dikira gila.”

“Sayang, kita pulang yuk.”

Si mahasiswi terlihat bingung.

“Bentar, laptopku mana ya?”

“Itu?”

Keyboard-nya maksudnya. Tadi aku tinggal di Starbucks kayaknya.”

“Kok kamu ceroboh gitu sih say?”

“Aku gak biasa pake 2-in-1 begini.”

“Makanya kalo dilepas, keyboard-nya langsung masukin tas dong.”

Mereka bergegas kembali ke tempat duduk mereka sewaktu di Starbucks. Barang yang dicari sudah tidak ada. Bertanya ke petugas pun ternyata tidak ada yang tahu.

“Tuh kan, kejadian lagi. Begini nih yang aku bilang mirip mama.”

“Kamu sengaja bikin aku marah ya?”

“Kok kamu yang marah? Bukannya kamu harusnya yang bilang sori atau maaf.”

“Maaf untuk apa? Maaf karena aku dengan sengaja udah menghilangkan laptop murah ini, dengan tujuan supaya dibelikan lagi laptop mahal? Maaf karena orang yang katanya mengerti aku, malah maki-maki aku di depan umum? Maaf karena aku sudah percaya pada janji orang yang mau berubah padahal tahu janji itu hanyalah omong kosong semata?”

“Kenapa harus bawa-bawa harga laptop murah lagi sih?”

Si mahasiswa bergegas meninggalkan si mahasiswi, barangkali masih berharap untuk bisa mencari keyboard yang hilang. Si mahasiswi pun keluar tapi masuk ke restoran. Setelah duduk, meletakkan tablet dan berkata pada waiter, ia menunggu sambil mengeluarkan HP. Dibukanya Whatsapp lalu dikirimkannya sebuah pesan pada seseorang. Laki-laki. Layar tablet yang kini menyala masih menampilkan aplikasi Instagram. Dalam amarahnya, sempat tebersit dalam pikiran untuk menghapusi foto-foto kebersamaannya dengan si mahasiswa di timeline.

Cek darah sudah, tapi setelah itu?

kenali-jenis-dan-fungsi-tes-darah-alodokter

Kredit: alodokter.com

Pukul 10:30 pagi adik menelepon sambil terisak. Saya pun menggigit bibir di dalam angkot yang sebentar lagi akan sampai melewati rumah sakit. Pagi itu, berakhir sudah perjuangan Papa. Beliau meninggal tepat di hari raya Imlek 31 Januari 2014.

Di area parkiran, istri sudah menunggu. Ia membentangkan lengan menawarkan pelukan. Sayapun menyenderkan pipi dengan lesu di bahunya, lupa sejenak bahwa di perutnya sedang bertumbuh janin laki-laki berusia 6 bulan. Anak yang kelak tidak akan pernah mengenal sosok kakeknya.

Tangis saya sendiri baru meledak beberapa jam kemudian, saat tiba ke tempat pembakaran jenazah…

Ada banyak penyesalan saya tentang Papa. Tentang kurangnya perhatian saya yang sibuk bekerja di luar kota terhadap kondisi beliau yang menderita depresi selama bertahun-tahun. Tentang ketidakpahaman saya bahwa obat jantung tidak boleh distop tibatiba. Tentang kurang dekatnya saya selama ini dengannya. Dan juga tentang cek darah.

Sebagai seseorang yang mengaku cukup sadar akan kesehatan, sudah sejak beberapa tahun sebelumnya saya sering cek darah sebagai bagian dari pemeriksaan rutin. Selain di rumah sakit yang menawarkan paket medical check up, kehadiran lab-lab yang memiliki banyak cabang juga membantu. Saya merasa diri lebih baik daripada mereka yang karena satu dan lain hal takut dicek dan memilih untuk tidak tahu masalah kesehatan dalam diri mereka ketimbang tahu. Padahal, sama seperti kebanyakan orang, kesadaran saya untuk mulai rutin cek pun bukan semata-mata preventif melainkan karena diawali dari sudah mulai adanya satu dua masalah kesehatan yang mendera. Dan terutama sejak Mama terserang stroke, yang membuka lebar mata tentang bahayanya darah tinggi dan lemak darah yang tinggi.

Sebagai anak yang baik pula, saya mengajak Mama dan Papa untuk cek rutin. Dan membawa mereka langsung ke lab/rumah sakit untuk itu. Saya tidak mau mengulangi kesalahan sebelumnya hanya mengirimi Mama uang dan menyuruhnya cek kesehatan, padahal seperti kita tahu seorang ibu akan lebih memperhatikan kondisi anaknya ketimbang dirinya sendiri. Uang ekstra yang saya kirim tiap bulan, ternyata tanpa saya tahu dipakai oleh Mama untuk membantu adik yang makin hari makin dirongrong biaya perawatan mobil tua. Sampai akhirnya terlambat. Pada suatu hari, setelah sehari sebelumnya mengeluh pusing (yang ternyata karena tensi tinggi), Mama terjatuh lemas saat mandi sore. Rupanya pendarahan di otak kiri. Untungnya, nyawanya masih terselamatkan. Tapi beliau tak bisa lagi berjalan sampai hari ini.

Kembali ke soal cek darah. Walaupun saya sering mengajak orang tua dan diri sendiri cek darah, rupanya keseringan itu malah berefek negatif. Biasanya, setelah cek darah, hasilnya hanya saya lihat sekilas. Bahkan item-item di luar kewajaran, yang oleh pihak lab sudah ditandai dengan bintang atau highlighter, pada orang tua saya asumsikan karena usia lanjut mereka saja. Hingga suatu hari, setelah melalui beberapa kali misdiagnosis, Papa dinyatakan mengidap MDS. Kondisi yang kerap pula disebut pre-leukemia itu adalah di mana sumsum tulang tidak memproduksi sel-sel darah yang matang dan sehat. Kondisi ini ditandai dengan turunnya setidaknya dua dari tiga komponen darah ini: trombosit, leukosit, atau Hb.

Dalam perjalanan pulang di hari dokter menjelaskan tentang gejala MDS tersebut, hati saya menciut. Dari sejak setahun sebelumnya, Hb Papa sudah lambat-laun merosot dari mulai di bawah 14 hingga 13, 12, dan lebih rendah lagi. Demikian pula nilai hematokritnya. Saya tahu itu. Tapi pada saat-saat itu saya tidak terlalu memperhatikannya, atau mungkin saya mencatat dalam hati akan berkonsultasi dengan dokter lalu lupa. Yang jelas, karena Papa juga kemudian didiagnosis perlu makan beberapa obat jantung, permasalahan hasil cek darah ini terlupakan. Sampai muncul gejala tak mau makan, berat badan makin turun, … dan semuanya menjadi awal keterlambatan.

Apa pesan moral cerita saya? Bagus jika Anda sudah memiliki kesadaran untuk cek kesehatan rutin termasuk cek darah sendiri. Namun langkah sesudah itu tak kalah pentingnya. Manakala ada hal-hal di luar kenormalan, jangan lupa untuk mengonsultasikannya dengan dokter. Selain dokter spesialis di rumah sakit, di lab kadang sudah disediakan pula dokter yang bisa Anda tanyai mengenai hasil cek darah. Atau, ada layanan dokter online sekarang. Jangan malu bertanya, jangan ragu pula mencari second opinion. Jangan ulangi kesalahan saya. Cek darah sudah, tapi setelah itu? Tidak ada tindak lanjutnya.

 

 

Sebuah percakapan di pagi hari

“Pagi, Jeng!”

“Pagi juga, Ceu! Tumben nih jam segini udah berkeliaran?”

“Iya nih, Jeng. Lagi gak mood, ngeden tapi gak keluar-keluar. Jadi jalan-jalan aja cari angin sekaligus inspirasi. Oya Jeng, tadi subuh Ceuceu ikut dengar ceramah pagi dari mesjid. Jadi penasaran. Situ sama si Bapaknya, termasuk halal gak sih?”

“Halal??”

“Iya! Halal apa haram?!”

“Em… Gimana ya Ceu, bingung jawabnya. Di lingkungan kita kan gak ada istilahnya nikah resmi ya, Ceu. Kalau udah masanya kawin, ya kawin aja dengan siapa yang ada saat itu. Gak ada seremoni atau janji nikah gitu. Apalagi pas kejadiannya si Bapak main sosor aja tuh. Mau dibilang haram, ya bisa. Tapi, apa iya sih kalau emang kodratnya kita udah begini, tetep dibilang haram? Gak adil juga kan ya.”

Tok, petook! Mikirnya ke mana sih, Jeng Bebek? Maksud Ceuceu itu, telur sama dagingnya situ, halal gak buat dimakan manusia?”

Kweeek! Ya ampun Ceu Ayam Pelung, kirain… Ya, halallah! Gak halal dari mana?”

“Lah, tapi situ kan hidup di dua alam? Hewan yang hidup di dua alam bukannya haram ya?”

“Ga kali Ceu, kita-kita bebek petelur ini masih disebut hewan darat kok, hanya sesekali aja mencari makanan di kolam. Dan andai dianggap hewan dua alampun, asalkan disembelih secara syar’i, tetap halal kok. Buktinya banyak kan yang makan. Baik telurnya, maupun dagingnya.”

“Oh, gitu. Kirain. Ya baguslah. Soalnya tadinya Ceuceu pikir salah satu alasan kenapa telur situ jarang dimakan karena orang takut dengan faktor kehalalannya. Padahal telur situ bagus kan ya?”

“Kata siapa telur kami jarang dimakan Ceu Pelung? Itu, di warteg-warteg, selalu bertengger telur asin.”

“Iya, tapi konsumsi telur kalian jauh di bawah telur kami Jeng Bek. Di Indonesia orang rata-rata mengonsumsi 100 telur ayam per tahun, dibandingkan hanya 2 telur bebek per tahun. Padahal kalau dibandingkan telur bebek kan lebih besar daripada telur ayam, kandungan nutrisinya juga lebih banyak, terutama Omega-3. Itu yang Ceuceu baca di sebuah artikel tentang telur bebek di koran bekas halaman rumah.”

“Memang. Barangkali karena kebiasaan dan selera orang sini aja kali ya. Sebetulnya telur ayam juga bagus kok, Ceu. Sama-sama banyak nutrisi mulai vitamin A, B, D, zat besi dan mineral lain, antioksidan untuk mata, choline untuk otak, dan pastinya protein. Kan Tuhan menciptakan telur untuk kecukupan gizi anak-anak kita sebelum menetas, Ceu. Soal Omega-3 bukannya ada juga telur yang diperkaya Omega-3?”

“Betul juga. Makanya kalau dilihat angkanya ya Jeng Bek, banyak amat ya orang makan telur kita? Sampai seratus butir per orang per tahun, lho! Apa gak eneg? Ceuceu aja, karena sudah agak berumur nih, empot-empotan ngejar 200 butir setahun. Berarti produksi Ceuceu cuma cukup untuk memberi makan 2 orang aja? Belum lagi dikurangi telur-telur yang netes.”

“Mengonsumsi telur kan gak mesti dimakan begitu aja Ceu Pelung. Kuning telur, terutama—maaf ya Ceu—telur kami itu kaya tekstur dan rasa, berguna sekali dalam membuat roti dan kue. Bisa juga dipakai sebagai bahan pengemulsi buat—maaf kalau Inggris saya jelek Ceu, maklum gak sekolah—dressing di salad. Malah sebetulnya konsumsi telur masih dirasakan kurang, karena telur kan sumber protein paling murah Ceu, kalau dihitung rupiah per gram proteinnya.”

“Masa sih Jeng Bek?”

“Iya, bahkan lebih murah daripada tempe dan tahu, apalagi kalau dibandingkan dengan daging. Harga telur kan saat ini hanya Rp 18 ribu per kilo, padahal tempe bisa Rp 20 ribu per kilo. Tahu lebih murah hanya Rp 16 ribu, tapi kandungan proteinnya lebih sedikit. Jadi kalau dihitung per gram proteinnya, tetep kita lebih murah Ceu. Apalagi putih telur kita, murah banget karena sisa dari toko kue yang mengambil kuning telurnya aja. Coba gak ada putih telur kita, bisa kelabakan tuh para pecandu binaraga mencari sumber protein!”

“Oh gitu. Kalau begitu, kenapa orang gak lebih banyak makan telur ya Jeng? Apa karena menyebabkan alerginya itu? Tuh, anak tetangga pojok gang, tiap dikasih telur langsung matanya bengkak begitu kayak abis ditonjok?”

“Mungkin lebih karena ketakutan terhadap alergi aja ya Ceu. Atau sejak kecil tidak terbiasa makan. Padahal yang benar-benar alergi cuma sekitar 1-3% kok. Dan bayi manusia kalau diperkenalkan dengan telur sedikit demi sedikit sejak usia 4-6 bulan, akan lebih kecil lagi kemungkinannya menjadi alergi dengan telur. Satu lagi, kalau pun telur Ceuceu bikin alergi, biasanya makan telur bebek tetap bisa kok.”

“Wah, si Jeng pinter sekali. Kalau soal kolesterolnya, gimana tuh Jeng?”

“Kolesterol dalam telur kita, walaupun tinggi, tapi tidak menyebabkan kolesterol LDL darah manusia meningkat lho Ceu. Malah sebaliknya, telur dapat meningkatkan HDL dan membantu mengonversi LDL yang buruk menjadi yang baik.”

“Begitu ya? Yah, moga-moga aja orang lebih gemar makan telur deh. Biar amal ibadah kita memberi makan manusia juga diterima. Betul kan Jeng?”

“Betul, betul. Eh Ceu Pelung, anak-anakku kelihatannya udah pada kenyang nih makannya. Aku balik kandang dulu ya? Salam buat Pak Jago.”

“Iya, Jeng Bek. Salam juga ya buat si Bapak. Makasih pencerahan-pencerahannya, Ceuceu jadi semangat lagi nih buat bertelur. Mudah-mudahan setelah ini jadi gampang keluar lagi. Yuk ah!”

(Tulisan ini dibuat untuk menyambut Hari Ayam dan Telur Nasional 2017.)

Goyang dong!

Rudi awal 2011, desainer, pecinta Apple. Setelah duduk seharian mengerjakan proyek di depan iMac-nya, untuk bersantai ia ke ruang keluarga, mengambil rimot di meja lalu menghempaskan diri ke sofa. Mencari-cari saluran yang cocok, menonton sambil surfing dengan iPhone. Malam hari, ia membaca ebook dengan iPad di kamar sampai mengantuk.

Rudi pertengahan 2014, kini menikah dan menempati rumah baru. Pagi jam 10 masih bermalasan di tempat tidur. Dengan iPad generasi ke-6 yang makin sering dipakai menggantikan laptop, melihat-lihat mockup kerjaan anak buah sambil surfing di YouTube. Saat menemukan satu video lucu, dia memanggil istrinya yang sedang di ruang keluarga. Lewat IM tentunya, bukan dengan berjalan dan turun tangga ataupun berteriak-teriak dari kamar.

IM muncul di layar TV Internet ber-OS Android 5.5. Istrinya menekan OK di rimot lalu menonton video tersebut. Oya, kunci pintu depan belum dibuka. Dengan satu tombol di rimot yang sama, si istri membuka kunci pagar elektronik. Hm, hari ini harus belanja apa ya? Ia lalu melihat isi kulkas. Masih lewat TV tentunya, karena kulkas Samsung terbaru di keluarga pun sudah online dan dapat melaporkan status lewat Web. Semua persediaan masih banyak, kayaknya hari ini nyantai aja deh di rumah!

Apakah hal yang sama mulai terjadi pada Anda? Ironis bukan: kala komputer, ponsel, dan TV menjadi semakin interaktif dengan teknologi Web seperti AJAX/HTML5, para penggunanya malah semakin loyo karena tidak aktif.

Hanya dalam waktu beberapa dekade saja, kenyamanan yang diberikan teknologi, dari ponsel pintar sampai Segway, dari tablet hingga rimot universal, semakin menggoda kita untuk tetap diam sepanjang hari. Jangankan untuk naik turun tangga, kini banyak yang sudah malas duduk dan browsing dalam posisi tiduran. Padahal, sebagai spesies biologis yang hidup di planet bumi sejak ribuan abad, evolusi merancang kita harus terus bergerak. Kaki manusia mampu berjalan puluhan kilometer sehari melebihi semua hewan darat manapun, namun otot-otot kita harus dipakai dan digerakkan teratur jika tidak ingin mengalami atrofi. Jarang berkeringat pun kurang baik bagi manusia, karena dengan berkeringat kita sekaligus mengeluarkan racun-racun tubuh. Merosotnya kesehatan pasien stroke secara drastis yang terutama disebabkan inaktivitas merupakan salah satu bukti jelas bahwa manusia perlu aktif agar sehat.

Negara adidaya teknologi seperti Amrik sampai tak berdaya dalam menggerakkan warganya. Meskipun sudah ada kampanye kesehatan seperti Move! (Gerak Yuk? Goyang Dong?) kenyataannya hingga seperlima remaja di Amrik ndut. Tapi, negara-negara berkembang pun tak usah bangga karena menurut WHO, 80% penyakit tak menular terjadi di negara berpenghasilan rendah. Kurang gerak merupakan salah satu faktor penyakit-penyakit seperti ini.

Kalau dulu seingat penulis anjuran dari guru dan orang tua adalah agar berolahraga minimal 2-3 kali seminggu, maka kini sudah banyak pakar kesehatan yang menyarankan agar berolahraga minimal 5 hari sepekan atau bahkan setiap hari. Kenapa? Karena di luar olahraga, aktivitas keseharian kita sudah menjadi begitu pasif. Tidak lagi banyak berdiri melainkan terpaku di depan layar komputer. Tidak lagi banyak berjalan karena ke mana-mana dengan mobil. Tidak lagi harus menghampiri rekan kerja atau mengunjungi kerabat, karena semua komunikasi dengan imel/SMS/YM/fesbuk/tuit dan entah apa lagi nanti.

Karena meningkatkan kebugaran dan mengurangi berat badan tetap menjadi salah satu resolusi tahun baru paling favorit, di mana-mana, bagaimana kalau di awal 2011 ini para pembaca berikrar untuk kembali rajin bergerak dan berolahraga? Pusat kebugaran sudah menjamur di perkotaan, dan tanpa bergabung di pusat kebugaran pun Anda tinggal mengunjungi taman dan kolam renang terdekat, atau mengelilingi kompleks perumahan. Untuk pegawai kantoran dan rumahan, sudah ada banyak tip yang bisa dibaca di Web untuk meningkatkan gerak, yang pada intinya adalah mengakali dan menyengajakan sedikit merepotkan diri, mis: memakai gelas kecil agar sering bolak-balik ke dispenser, banyak minum agar sering ke WC, memasang software activity breaks, makan siang di tempat yang agak jauh dan bukan pesan antar, memilih tangga ketimbang lift, dll.

Bagaimana dengan penulis sendiri? Kebetulan, salah satu resolusi tahun baru saya adalah kembali menulis artikel tentang resolusi tahun baru. Jadi, centang. (PCMedia, Jan 2011)

Buka-bukaan, selalu haruskah?

Barangkali karena kombinasi Internet, teknologi informasi/komunikasi, dan open source, banyak orang sekarang memuja kata open dan menuntut apa-apa harus (lebih) terbuka. Contoh, 10-15 tahun lalu, merilis sebuah software open source umumnya cukup dengan mengunggah file tarball/zip berisi kode sumber ke server lalu mengumumkannya ke milis/newsgroup. Kini, setelah saya merilis sebuah software, tak lama ada yang langsung bertanya di mana repositorinya, bisakah ditaruh di github/SF/Google Code, apakah lisensinya kompatibel dengan CC/GPL/BSD/DSFG/dsb. Bukan hanya produk akhirnya saja melainkan keseluruhan proses pengembangan open source pun dituntut terbuka, kolaboratif, transparan. Mulai dari akses ke sistem kendali sumber, forum/milis pengembang, hingga bug trackernya. Hanya menyediakan tarball tidak lagi dianggap sesuatu yang cukup terbuka.

Karena itu, dirilisnya film Social Network yang mengisahkan pendirian Facebook kembali mencuatkan berbagai kritik terhadap situs jejaring sosial ini. Terutama seputar isu bahwa FB adalah taman berpagar (walled garden) yang mewajibkan kita menjadi anggota dulu sebelum bisa masuk. Dan ironis bahwa di atas platform Web yang terbuka, malah bermunculan taman-taman tertutup seperti FB (atau Android Market, atau AppStore dan keseluruhan sistem Apple).

Para pengkritik FB ini mungkin lupa bahwa konsep situs jejaring sosial itu sendiri adalah hanya mengizinkan akses bagi “teman” (dalam artian, mereka yang telah diundang/diizinkan), bukan bagi publik. Karena itu sah-sah saja jika sifatnya mewajibkan daftar dulu sebelum bisa melihat konten apapun. Dan tentu saja setiap user bisa mengeset segala datanya publik jika dia mau.

Kritik berikutnya terhadap FB adalah menjual data pengguna kepada pengiklan. Sayang sekali memang, iklan adalah satu dari segelintir saja model bisnis yang berhasil di Internet. Ini juga karena pengunjung senang yang gratisan dan lebih memilih menyerahkan data pribadi ketimbang membayar Rp 5000/bulan untuk akses tanpa iklan. Dan, FB bukan satu-satunya pelaku. Tak kurang dari Microsoft dan Apple kini pun melakukannya. Bahkan Google sebagai pengusung Open Web saat ini jauh melebihi semua situs lain dalam hal koleksi/agregasi data. 90+% penghasilan Google, atau lebih dari $20 milyar/tahun, didapat dari iklan (sementara FB baru sekitar $1 milyar). Kendati mayoritas data yang disimpan Google bukanlah foto/posting/relasi jejaring sosial, namun Google melacak semua kata kunci pencarian dan aktivitas browsing kita.

Kritik lain, dan yang paling relevan dalam hal openness, adalah keberadaannya sebagai platform aplikasi. Kendali FB terhadap aplikasi yang berjalan di platformnya memang absolut. Tak ada aplikasi yang bisa berjalan tanpa persetujuan terlebih dulu. FB bisa mematikan aplikasi manapun secara sekejap, sepihak, kapan saja. Perusahaan yang membangun model bisnis di atas platform FB harus tunduk telut pada FB, atau siap-siap hilang setiap saat. Inilah sebabnya Zynga khawatir seandainya FB membuat divisi gamenya sendiri (walaupun FB juga sebetulnya khawatir Zynga merangkul jejaring sosial lain seperti Google Me).

Tapi, kendali ketat ini masih dapat dimengerti karena aplikasi FB memanipulasi langsung data pengguna (yang notabene adalah aset utama FB) dan sebagian malah berjalan di server FB. FB memiliki kepentingan defensif menjaga agar aplikasi tidak merusak data maupun mengganggu pengguna. Contohnya, beberapa perubahan terakhir platform FB adalah pembatasan viralitas aplikasi maupun akses langsung terhadap Inbox, dlsb.

Ini menurut saya berbeda dengan walled garden sejati seperti Apple AppStore (atau, berbagai appstore lain). Pada dasarnya, aplikasi-aplikasi mobile ini tidak mengakses database di server Apple langsung, maupun berjalan di server milik Apple. Aplikasi ini sama seperti program tradisional di PC, berjalan di device milik pengguna masing-masing. Karena itu restriksi hanya mengizinkan aplikasi dari Apple AppStore yang berjalan di iPhone/iPad benar-benar merupakan tindakan antiopen yang sesungguhnya tanpa alasan teknis yang kuat. Kalau proponen segala hal yang open harus berkoar-koar terhadap sistem yang tertutup, Apple-lah musuh utama mereka, bukan FB.

Akhir kata, suka atau tidak suka terhadap FB, The Social Network nampaknya masih menarik ditonton. Rating IMDB-nya cukup bagus. (PCMedia, Des 2010)

tvOS

Bulan-bulan ini rencananya Sony akan mulai memasarkan produk Internet TV. Sebetulnya penggunaan Internet untuk perangkat televisi bukanlah hal baru. Apple sudah mengeluarkan iTV-nya sejak 2006. Microsoft mengembangkan Windows versi Media Center dan memiliki layanan Xbox Live. Sony sendiri pun sudah sebelumnya mengoperasikan Playstation Network (PSN) bahkan sudah menjual model TV Bravia di tahun 2007 yang juga dijuluki teve internet kala dirilis. Namun yang berbeda, produk Sony terbaru ini adalah yang pertama menggunakan platform Google TV berbasis Android (dan prosesor Intel Atom). Ini pertama kalinya Google mencoba peruntungan di ranah TV. Sang “raja Web” ini menjanjikan perpaduan TV dan Web yang jauh lebih ketimbang produk-produk TV internet yang sudah ada sebelumnya, yang praktis hanya sejauh streaming konten video atau download game/musik/trailer. Apple pun segera memasang jurus, mengupgrade produk iTV dan gencar melakukan serangkaian deal dengan stasiun-stasiun untuk menjual acara TV satuan via iTunes. Rupanya tahun 2010-2011 akan menjadi tahun menarik untuk teknologi perangkat televisi (setidaknya di Amrik/Jepang/Eropa), karena selain TV internet sedang ngetren pula teknologi 3D.

Memasuki pasar televisi, Google tetap menggunakan resep klasiknya yang sejauh ini masih jitu: mengandalkan konten dari orang lain (dalam hal ini, dari stasiun siaran dan operator TV kabel) lalu menerapkan teknologi pencarian untuk membuat konten ini lebih mudah diakses pengguna. Dalam demo bulan Mei lalu di konferensi Google I/O, pengguna Google TV akan disuguhi kotak pencarian di bagian atas layar TV untuk mencari nama artis/judul acara/topik, lalu Google akan melakukan pencarian baik di YouTube, arsip video pengguna, maupun toko konten onlinenya (selain informasi umum dari Web). Lewat perangkat set top box yang dihubungkan dengan televisi, Internet, maupun TV kabel dengan protokol khusus, Google akan mengambil informasi tentang jadwal acara TV (dan iklan-iklan) ke operator TV agar mempermudah pengguna menemukan acara favorit.

Bukan itu saja, yang ujung-ujungnya dikejar Google adalah dapat memantau aktivitas pengguna TV (dan, memakai informasi ini untuk menjual iklan). Selama ini pengiklan media siar macam TV/radio memang tidak memiliki laporan efektivitas iklan yang mendetil sebagaimana halnya iklan web online. Yang diketahui hanyalah jumlah kira-kira penonton sebuah acara (rating) beserta segmen-segmennya (ibu rumah tangga, rentang usia, dll). Kini, lewat bantuan Google, setiap pindah saluran, setiap tombol remote yang dipencet, setiap kata kunci pencarian akan dikirimkan ke server.

Sama seperti nasib perusahaan suratkabar, cepat atau lambat para stasiun/operator TV akan menyadari bahwa Google (dan juga Apple, karena perusahaan inipun kini mengoperasikan iAds) akan menjadi pesaing mereka dalam berebut kue iklan. Pasar iklan televisi berkali-kali lipat nilainya dibanding pasar iklan online: pasar iklan online dunia saat ini sekitar 40 miliar dolar US, sementara pasar iklan televisi untuk Amrik saja sudah sebesar 70 miliar dolar. Google dan Apple adalah perusahaan raksasa yang menjadi favorit pasar saham, tentu saja setiap tahunnya diharapkan meningkatkan pemasukan miliaran dolar. Tapi apa boleh buat, konektivitas Web dan komputer pandai akan melanda semua perangkat rumah dan kantor, masih akan banyak lagi industri yang akan berhadapan dengan para jawara komputer/Web ini.

Dari segi teknologi sendiri, media televisi akan menjadi sebuah ajang pembuktian yang penting bagi Android. Jika sukses dengan segala keterbatasan media ini, maka bisa hampir dipastikan bahwa Android akan merajalela untuk semua perangkat berlayar, karena sudah dibuktikan dari yang layar ukurannya kecil (ponsel) hingga raksasa (TV puluhan inci). Setelah TV, penetrasi Web akan terus berlanjut dengan semua perangkat kita yang lain: dari kulkas (otomatis memesan makanan yang sudah mulai habis ke toko online), fax/printer (akses instan ke buku telepon/email/dokumen online), sistem kendali rumah pintar (mengizinkan kita mengunci rumah dan mematikan lampu lewat Internet), dan entah apa lagi.

Tapi, seperti biasa bisa diperkirakan bahwa karena kendala infrastruktur Indonesia akan tertinggal bertahun-tahun untuk adopsi TV internet ini. Xbox Live saja sampai sekarang belum tersedia di Indonesia, sementara di PSN pengguna Indonesia belum bisa membeli film/musik online. Jangankan itu, persentasi jumlah pengguna TV berbayar pun masih jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Mayoritas pengguna Indonesia masih hanya mau mencari konten gratis, yang bejibun di YouTube atau jaringan BitTorrent. (PCMedia, Nov 2010)

Pos di era pascapos

Kapan terakhir kali Anda menulis dan mengirim surat ke teman? Apakah Anda masih menerima kartu ucapan atau wesel pos? Tahu/masih ingatkah Anda istilah-istilah ini: warkat pos, telegram, filateli?

Bukan rahasia lagi bahwa popularitas dan relevansi kantor pos sudah melewati masa jayanya. Jikalau dulu kita merasa wajib mengunjungi kantor pos setiap minggu, berharap pak pos datang memanggil setiap hari, dan mengoleksi prangko edisi baru tiap tahun, kini tidak lagi. Bagi kebanyakan orang modern, email, YM, ponsel, dan Facebook-lah yang menjadi “layanan pos” mereka sehari-hari. Memperingati hari pos sedunia yang ditetapkan setiap 9 Oktober, menarik menyimak bagaimana perusahaan-perusahaan pos di berbagai negara mencoba bertahan.

Amrik. Orang Amrik termasuk gemar berkirim surat/pos, karenanya tak heran US Postal Service merupakan salah satu perusahaan dengan karyawan terbanyak di dunia. Rata-rata setiap orang di sana mengirim sekitar 1,5 pucuk surat/hari, dengan total surat terkirim tahun 2009 sekitar 170 miliar. Namun jumlah ini menurun terus sejak awal dekade sebelumnya (2000) yaitu 220 miliar. Sejak 2007 USPS terus merugi dan penjualannya pun merosot, sebuah potret yang amat buram. Tahun 2008 USPS akhirnya terpaksa mem-PHK puluhan ribu karyawannya. Langkah-langkah pengiritan lain yang dilakukan: mencabut kotak-kotak pos yang kurang peminat, tidak lagi mengantar surat hari Sabtu, menutup beberapa cabang, dan memberikan insentif pensiun dini (untuk mengurangi biaya PHK). Untungnya, proyek sensus nasional 2010 akan membantu memberi pemasukan tambahan. Sumber pemasukan lainnya masih sulit diandalkan, karena 80% total pemasukan masih dari pengiriman surat. Sedangkan jumlah surat yang dikirim terus menyusut karena orang semakin banyak membayar tagihan dan mengirim undangan online.

Indonesia. Dibanding USPS, nasib PT Pos masih lebih mujur karena telah lama melakukan diversifikasi. Hanya sekitar 50% pemasukannya kini yang berasal dari surat. Sisanya, jasa keuangan 35%, jasa logistik 7%, bisnis noninti 8%. PT Pos masih berhasil membukukan laba dari tahun ke tahun, walaupun didera isu korupsi dan kadang jumlah labanya kerdil (tahun 2006 dan 2007 hanya sekitar Rp 2 miliar). Usaha jasa finansial nampaknya akan terus digenjot PT Pos, karena di bisnis intinya yaitu surat/paket ia banyak digempur oleh perusahaan-perusahaan kurir lokal maupun internasional (apalagi sejak monopolinya dicabut tahun lalu). Salah satu strategi cerdas PT Pos mengakali hal ini adalah dengan mengobral kemitraan Agen Pos di kelurahan-kelurahan seluruh Indonesia.

Jerman, Prancis. Tak seperti di Amrik, perusahaan-perusahaan pos di Eropa umumnya memiliki anak usaha bank yang cukup besar, karena itu kerugian yang diderita unit posnya bisa disubsidi oleh divisi jasa finansialnya. Deustche Post juga rajin melakukan akuisisi (mis terhadap DHL & DHL Express) untuk memperkuat posisinya. Sementara La Poste terkenal dengan sistem Minitelnya yang menyerupai Internet/Web sebelum Web ada. Lewat perangkat Minitel yang tersebar di mana-mana (toko maupun rumah), Anda dapat mengakses halaman kuning, mengecek harga saham, membeli prangko, tiket kereta, dll.

Sebetulnya penyedia layanan pos bukannya tidak berinovasi atau memanfaatkan teknologi modern untuk terus maju. USPS menjual prangko di supermarket dan juga online, bahkan Anda dapat mencetak amplop, kardus, hingga label pengiriman untuk langsung ditempelkan pada paket, tinggal tunggu pak pos datang menjemput. PT Pos membuat wesel pos instan berbasis telekomunikasi ala transfer uang pakai SMS. Dan Minitel, tentu saja, adalah bak cikal bakal Web. Namun imej perusahaan pos sebagai perusahaan generasi lampau sulit dihapus. Dalam bidang IT pun kompetensi mereka kalah dengan perusahaan-perusahaan baru yang lebih gesit. Sementara turunnya omzet dari pengiriman surat, yang masih menjadi andalan bagi banyak perusahaan pos (seperti USPS), terus menggerus kocek.

Jasa pos adalah satu saja dari sekian banyak contoh di mana teknologi yang terus berkembang memporak-porandakan sebuah industri dan membuatnya kadaluarsa, sekaligus melahirkan industri-industri baru. Masih ada harapan bagi perusahaan-perusahaan posnya itu sendiri untuk bertahan, namun praktis mereka harus meninggalkan cara/model bisnis lama dan berubah menjadi entiti baru. Cepat atau lambat, hal ini akan terjadi pula pada bidang yang kita tekuni. Pertanyaannya adalah, siapkah kita nanti? (PCMedia, Okt 2010)

Kmn 4L4i?

Forum internal di kantor saya sedang heboh. Penyebabnya, ada staf baru yang alay. Sudah diduga, karena praktis semua staf lama di kantor tidak berusia remaja lagi, rata-rata geleng kepala dan mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap gaya bahasa ABG yang dipakai staf baru tersebut. Alasannya tentu saja karena sulit dibaca, sulit dimengerti, dan terlalu informal. Mereka lupa bahwa beberapa tahun hingga belas tahun yang lalu ketika mereka masih remaja, mereka pun melakukan hal yang sama dengan bahasa gaul/prokem, dengan tujuan persis agar para orang tua garuk-garuk kepala karena puyeng.

Fenomena alay meneruskan tradisi dan siklus lahirnya bahasa slang/jargon/dialek yang selalu terjadi secara konstan tiap beberapa tahun seiring munculnya generasi remaja berikutnya, ataupun lahirnya kelompok/subkultur baru karena perubahan zaman. Dalam hal ini fenomena alay tidak ada bedanya dengan fenomena-fenomena bahasa gaul sebelumnya. Yang berbeda hanyalah kondisi spesifik zaman saat itu: media apa yang sedang popular, teknologi apa yang sedang berkembang, dsb.

Sudah banyak artikel yang membahas tentang perkembangan dan kondisi alay saat ini, namun saya tertarik untuk menerka-nerka arah perkembangan “alay generasi berikutnya”.

Selalu tampil beda. Prinsip yang bisa dijadikan patokan dalam memperkirakan apa yang bakal dilakukan remaja adalah, remaja selalu ingin tampil beda dari orang tua/dewasa (maupun anak-anak). Contohnya, popularitas SMS (dan juga chat/IM) yang dimulai beberapa tahun lalu membuat maraknya penggunaan singkatan yang ekstrem. Bukan saja penghilangan beberapa vokal dan huruf mati sebagaimana penyingkatan yang tradisional (“bagaimana” menjadi “bgmn”), tapi digunakan juga substitusi dengan angka (“t4” untuk “tempat”, “l8” untuk “late”/terlambat), pengubahan ejaan (“cause” menjadi “coz”) bahkan pemotongan begitu saja (“emosional” menjadi “emo”). Sebagian singkatan ini banyak dipelopori oleh anak muda, namun saat menjadi popular dan digunakan oleh semua orang, mulailah para remaja mencari-cari singkatan/ejaan alternatif yang tidak lazim (misalnya: “gue” berubah menjadi “gw”, “w”, “q” dan entah apa lagi nanti, “sori” menjadi “sowi”, “cowyie”, dst) hingga melakukan overdekorasi pada kata sehingga huruf bercampur dengan angka juga simbol (“kabar” menjadi “K@b4r”), atau malah menjadi lebih panjang daripada kata aslinya (“home” menjadi “hummzz”, “cakep” menjadi “cu4K3pZ”). Aturan penyingkatan pun yang tadinya konsisten, karena dorongan untuk selalu ingin beda, dibuat menjadi tidak konsisten. Jadi, hampir dapat kita pastikan kalau alay generasi berikutnya tidak akan persis/menyerupai alay saat ini, semata-mata karena alay saat ini diciptakan/dipakai oleh orang yang akan menjadi dewasa/tua nantinya.

Bahasa Inggris dan Internet. Merasuknya bahasa Inggris pada bahasa-bahasa gaul setempat, bukan saja dialami di Indonesia tapi juga di seantero dunia. Karena kemajuan dan pengaruh budaya Amerika serta pesatnya globalisasi (yang diakselerasi juga oleh Internet), mewabahnya bahasa Inggris sebagai “bahasa gaul dunia” tak terelakkan lagi. Hal ini nampaknya dalam waktu singkat tidak akan berubah, mengingat tidak ada kandidat kuat bahasa lain (lebih jauh mengapa, lihat dua artikel lampau saya: IT dan Bahasa Inggris serta Cas cis cus Inggris Karena Minder). Jadi, cukup aman kita katakan bahwa bahasa gaul berikutnya akan tetap amat terpengaruh oleh bahasa Inggris bahkan mungkin lebih. Remaja mana yang mau disebut kampungan, gak mendunia, gak gaul secara global?

Mode komunikasi masa depan. Kalau zaman saat ini mode komunikasi antarpersonal yang paling marak adalah SMS/chat/IM di mana sebaris dua baris pesan dipertukarkan dan direspon dalam hitungan beberapa belas-puluh detik hingga beberapa menit, maka mode komunikasi yang mungkin akan lebih popular di masa depan adalah mode yang lebih interaktif/instan lagi yaitu tiap huruf yang diketik langsung dikirim dan dapat dilihat oleh penerima. Hal ini sudah didemonstrasikan oleh Google Wave namun belum diimplementasi kebanyakan jaringan chat. Orang-orang dewasa dan tua kemungkinan tidak akan terlalu suka mode interaktif seperti ini karena lebih menyita perhatian, dan bisa ditebak bahwa dengan demikian remaja akan ekstra menyukainya. Sehingga menarik membayangkan bagaimana teknologi seperti ini akan mempengaruhi gaya berkomunikasi dan bahasa mereka. Barangkali dekorasi menghias-hias kata dengan simbol/angka/huruf besar/kecil tidak akan terlalu ngetren lagi, karena proses ini butuh waktu dan tidak asyik jika dilihat saat diketik/disusun. Atau barangkali, melirik Google Wave, penggunaan bot untuk melakukan transformasi real-time pada teks yang sedang diketik akan lebih popular (bisa diaplikasikan remaja untuk melakukan enkripsi/enkoding yang bisa membingungkan orang tua). Atau barangkali…

Ah, saya lanjutkan lain kali saja. Saya masih ingin memposting sindiran-sindiran untuk si alay kantor. (PCMedia, Sep 2010)

Quo vadis Yahoo!?

Akhir Mei 2010 lalu, Yahoo! mengumumkan akuisisi total terhadap situs jejaring sosial selular lokal Koprol, dengan nilai yang tidak disebutkan. Seluruh karyawan Koprol berjumlah 11 orang resmi menjadi karyawan Yahoo! dan akan terus bekerja mengembangkan situs tersebut dalam skala internasional. Walaupun ini bukan pertama kalinya produk online buatan Indonesia dibeli pihak asing, namun barangkali ini yang paling high profile dalam beberapa tahun terakhir, dikarenakan nama besar Yahoo! dan sedang terus trendinya jejaring sosial.

Yahoo! adalah muka lama di arena layanan Internet, berdiri tahun 1995. Dibandingkan banyak perusahaan seangkatan seperti Lycos dan Altavista, nasib Yahoo! jauh lebih baik: tetap eksis hingga kini sebagai salah satu pemain terbesar dan konsisten meraup laba dari tahun ke tahun. Namun Yahoo! juga telah kehilangan banyak gelarnya. Mahkota raja pencarian telah diambil Google sejak awal abad ini. 2008 lalu yahoo.com disalip YouTube dalam ranking situs paling banyak dikunjungi di Amrik (dan kini berada di posisi #3). Kue pasar email, total waktu kunjungan, dan iklannya pun digerogoti raksasa online lain.

Yahoo! saat ini adalah sebuah grup media online yang rajin dan regular membeli situs-situs (“properti”) popular dengan tujuan akhir sebagai tempat untuk memajang iklan. Sekitar 90% penjualan Yahoo! adalah dari iklan online. Ini sama dengan Google. Bedanya adalah, properti-properti Yahoo! hampir semuanya dibeli dari luar dan tidak dikembangkan sendiri. Terkecuali direktori dan IM, mulai dari email (dibeli dari Four11 dan Oddpost), pencarian (dari Net Controls, Inktomi, Overture), permainan (ClassicGames), milis (eGroups), hosting file/situs (GeoCities), hosting gambar (Flickr), dll merupakan hasil pertumbuhan inorganik, bukan alamiah hasil kerja orisinal tim sendiri.

Di sinilah masalahnya: Yahoo! relatif kekurangan daya kreatif dan pengembangan teknis untuk melahirkan situs-situs inovatif sendiri, ataupun untuk mengubah situs-situs potensial yang dibelinya agar bertumbuh secara maksimal. Apalagi banyaknya properti yang dibeli dan harus diurus juga semakin memperencer konsentrasi pada salah satu properti dan memperberat kerja integrasi antarlayanan.

Di email contohnya, kita bisa melihat betapa lambat Yahoo! bereaksi: sejak Gmail muncul 2004, baru tahun 2008-2009 layanan email Yahoo! sepenuhnya berganti muka ke generasi baru. Dan sampai sekarang pun integrasi arsip online chat/IM dan email belum kelar. Atau, kadang saya geleng kepala terhadap kebijakan teknis aneh yang masih dipertahankan Yahoo!: pemakai yang memiliki alamat email @yahoo.co.id atau belasan domain negara lainnya, tidak bisa dikirimi di alamat @yahoo.com (padahal nama usernya sendiri sudah dijamin unik) sehingga menyebabkan sering salah kirim.

Contoh lainnya, menurut saya, Yahoo! seharusnya bisa memanfaatkan YM-nya yang popular untuk membendung Twitter dan Facebook. Bahan-bahan dasarnya sudah ada: basis pengguna yang mencapai ratusan juta, daftar kontak YM yang bisa dipakai sebagai cikal bakal daftar teman dan pengikut, sifat IM yang sudah mirip blogging mikro, dsb. (Perlu dicatat, Yahoo! sebetulnya sempat mencoba eksperimen serupa dengan 360o , menggunakan kontak email sebagai modal dasar untuk layanan jejaring sosial, namun berbagai masalah teknis seperti usability dan antarmuka membuatnya gagal bersaing. Andaikata Facebook jadi dibeli Yahoo! barangkali nasib Facebook juga berbeda.)

Secara umum juga bisa kita lihat, tingkat integrasi layanan-layanan Yahoo! relatif lebih lemah dibandingkan Google, misalnya dari keseragaman antarmuka/tampilan, pola URL, ketersediaan API, dll. Banyak properti mandeg dan tidak dimodernisasi, contoh Yahoo! Groups (walaupun nampaknya properti milis sejenis ini sulit mendatangkan pendapatan sehingga Google pun tidak terlihat terlalu mengurus Google Groups yang terus diradang masalah spam).

Menjawab pertanyaan di judul artikel, Yahoo! tidak akan mengalami kematian, setidaknya tidak dalam waktu dekat (kecuali diakuisisi). Yahoo! telah mencapai massa kritis sejak lama, bak gurita dia pun menguasai banyak area mulai dari konten dan berbagai layanan komunikasi/bisnis. Yahoo! tidak segan membunuh properti gagal/sekarat dan terus memperlengkapi diri dengan properti baru. Hanya saja, jangan mengharapkan produk first class dari Yahoo!. Jumlah properti yang banyak dan kurangnya kekuatan pengembangan membuat properti yang ada tidak bebas berevolusi penuh. Kita harapkan Koprol tidak bernasib serupa. (PCMedia, Agu 2010)